85 Persen Pasien Kanker Dan Keluarga Bangkrut

85 Persen Pasien Kanker Dan Keluarga Bangkrut

85 persen pasien kanker dan keluarga bangkrut! Baru-baru ini saya melakukan pencarian mengenai informasi sakit kritis, saya menemukan berita di harian kompas, 17 Desember 2011

85 persen pasien kanker dan keluarga bangkrut

Sungguh sangat terkejut, ternyata yang saat ini di dengunkan Allianz mengenai pentingnya memiliki santunan asuransi sakit kritis, ternyata sudah sangat benar. Mungkin secara awam, banyak yang berpikir, bahwa kebangkrutan di identik dengan : hilangnya pekerjaan, pencurian, kemalingan, sabotase atau bangkrut. Beberapa hal yang saya sebutkan memang benar secara penglihatan dapat membuat bangkrut keluarga, namun tahukah anda, ada maling yang tidak pernah terlihat dan diam-diam akan datang membuat anda bangkrut! yaitu sakit kritis. 85 persen pasien kanker dan keluarga bangkrut ini merupakan hasil penelitian dari Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Analisa Kebijakan UI.

Pertanyaannya sekarang apakah anda sudah siapkan asuransi sakit kritis mulai dari sekarang? Anda siapkan sekarang pun, belum tentu dapat membantu. Apalagi tidak menyiapkan sama sekali. Penting untuk anda ketahui, asuransi sakit kritis di semua perusahaan asuransi memiliki masa tunggu 90 hari, artinya setelah 90 hari, asuransi sakit kritis akan mengcover anda. Apakah lewat informasi 85 persen pasien kanker dan keluarga bangkrut masih belum cukup membuat anda tersadarkan bahwa asuransi sakit kritis penting untuk anda sekeluarga?

85 Persen Pasien Kanker Dan Keluarga Bangkrut

Jakarta, Kompas – Studi awal dari Fase II ASEAN Costs in Oncology menunjukkan, 85 persen pasien dan keluarga bangkrut karena menanggung biaya obat dan perawatan kanker. Ini indikasi kanker berpotensi membuat keluarga ekonomi menengah dan rendah menjadi semakin miskin.

”Jika di keluarga ada yang menderita kanker payudara, biaya perawatan bisa mencapai Rp 200 juta setahun. Maka, orang yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan bisa bangkrut,” kata Prof Hasbullah Thabrany dari Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Analisa Kebijakan, Universitas Indonesia, pada peluncuran Fase II Studi ASEAN Costs in Oncology (Action), Jumat (16/12), di Jakarta.

Action adalah kajian multinasional tentang dampak sosial ekonomi kanker yang dilakukan oleh The George Institute, Sydney, difasilitasi oleh The ASEAN Foundation dan Roche Asia Pasifik. Studi dilakukan di delapan negara ASEAN, yaitu Malaysia, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia, studi akan dilaksanakan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, pada 2.400 pasien kanker dan keluarga.

Studi dimulai Januari 2012 di 12 rumah sakit, yaitu RS Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, RS Medistra, dan MRCCC (Jakarta); RS dr Hasan Sadikin (Bandung); RS dr Kariadi (Semarang); RS dr Sardjito (Yogyakarta); RS dr Sutomo dan Klinik Onkologi (Surabaya); RS Sanglah (Denpasar); RS dr Wahidin Sudirohusodo (Makassar); serta RS dr Adam Malik (Medan).

Masukan bagi pemerintah

Selama setahun pasien dan keluarga dipantau beban keuangannya, dari sisi perawatan ataupun biaya tidak langsung, seperti transportasi. Selain mengetahui besaran biaya untuk penderita kanker dan keluarganya selama perawatan, hasil studi bisa menjadi bahan pertimbangan pengambilan kebijakan dalam pengendalian kanker. Menurut Hasbullah, penelitian akan selesai tahun 2013, dan diharapkan menjadi masukan bagi kebijakan pemerintah terkait penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional tahun 2014.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mendukung studi ini. Ia memaparkan, kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian global dengan angka 13 persen (7,4 juta) dari semua kematian per tahun. Sebanyak 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi tumor 4,3 per 1.000 penduduk di Indonesia. Kanker penyebab kematian nomor tujuh setelah stroke, tuberkulosis, hipertensi, cedera, perinatal, dan diabetes. Menurut sistem informasi RS, jenis kanker tertinggi di RS seluruh Indonesia pada pasien rawat inap tahun 2008 adalah kanker payudara (18,4 persen), disusul kanker leher rahim (10,3 persen).

Di Indonesia, 70 persen kasus kanker ditemukan pada stadium lanjut. Akibatnya, angka bertahan hidup rendah dan menyerap anggaran besar. Data PT Askes, kanker menempati urutan keempat penyerapan biaya rawat jalan dan tindak lanjut pada 2010. (ICH)

Ayo, segera persiapkan asuransi sakit kritis mulai dari sekarang, jangan biarkan diri anda hanya menjadi penerima informasi saja dan jika anda tergerak untuk membantu keluarga Indonesia memiliki asuransi sakit kritis, pastikan anda bergabung menjadi agen asuransi! Selain anda bisa memiliki asuransi GRATIS lewat komisi bulanan anda, anda juga bisa membantu menjaga keluarga Indonesia agar tidak tergabung menjadi 85 persen pasien kanker dan keluarga bangkrut

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *